Sabtu, 17 Desember 2011

BISAKAH KALIAN MENGERTI AKU???


Dari tempatku duduk untuk sarapan, aku bisa mendengar suara gelas dan piring berjatuhan dari arah dapur, ruangan di sebelahku. Sepagi ini, orang tuaku tak dapat menunda pertengkarannya, seperti yang akhir-akhir ini sering mereka jeritkan di rumah.
Aku menatap piringku. Tak berselera untuk menghabiskan sarapan yang ada di depanku. Aku bangkit berdiri dari kursiku dan saat itu juga lengan kananku tergores pisau yang sebelumya aku tidak menyadari keberadannya. Darah yang mengalir membuat pikiranku terfokus pada rasa nyerinya. Segera aku menyambar serbet untuk membekap lukaku.
            Aku bergegas berangkat sekolah tanpa pamit. Aku masuk mobil, membanting pintu mobil hingga menutup dan langsung menyandarkan tubuhku ke sandaran kursi. Kedua tanganku mencengkeram erat kemudi. Kepalaku menghadap keatas, sementara kedua mataku terpejam dan kemudian aku menghela napas panjang. Sesekali aku mencoba melupakan kejadian tadi pagi dari benakku tapi bayangan itu terus menghantui perjalananku. Pikiranku tak lagi fokus. Aku menancapkan gas dan mengemudi dengan kecepatan tinggi menuju sekolah. Tempat parkir sekolahku sudah penuh, tak biasanya keadaan seperti ini. Aku mencari tempat untuk mobil Sedan yang tahunnya tak jauh dari tahun lahirku itu. Pak satpam menghampiriku dan menyuruhku parkir di pojok. Aku menurutinya, dan bergegas menuju pojok parkiran. Ku usap air mataku yang masih tertinggal disela-sela bulu mataku dan membenahi dandananku. Aku hampir lupa kalau hari ini adalah hari senin .Aku segera turun dari mobil, kulihat jam tangan unguku, telah menunjukkan jam 6.50, aku berlari kecil menuju kelas.
                                                #######
“ Cel kamu sakit?” Tanya Nerya lirih. Aku terdiam tak ada kata yang keluar dari mulutku, berusaha menyembunyikan tangisku dihadapan Nerya.  Aku tidak ingin seseorang pun mengetahui apa yang sedang terjadi denganku sekarang.
“ Cel kamu sakit?” Tanya Nerya dengan nada sedikit lebih keras. “Cel jawab dong pertanyaanku?” lagi-lagi Nerya membuyarkan tangisku dengan nada yang lebih keras lagi. Aku tetap menundukkan kepala, tanpa peduli Nerya yang sejak tadi berada disampingku. Badanku lemas kepalaku pusing, akhirnya aku memutuskan untuk ke ruang UKS. Aku membuka serbet yang membekap lukaku, melihat sebuah garis kemerahan panjang dikulitku. Sambil menekan-nakan goresan tersebut, aku merasakan kembali nyeri itu lagi bersamaan dengan cairan berwarna merah yang mencuat keluar dari dalam kulitku. Aku gigit bibir merahku dengan keras, perih, perih dan perih yang kurasakan.
#####
“Cel bangun, udah wakunya pulang!” Reyna membangunkanku. Aku terkejut  tapi kepala ini terasa berat untuk bangun dari tempat tidur.
“ Badanmu panas Cel, aku antar kamu pulang ya? Ajak Nerya. Lagi-lagi aku terdiam hanya anggukan kepala yang kuberikan ke Nerya. Nerya membantuku turun dari tempat tidur dan menuntunku keluar ruang UKS. Sebenarnya aku malas untuk pulang, tapi Nerya memaksaku. Didalam mobil tak ada kata yang keluar dari mulut kami. Aku bersandar di kursi sedangkan Nerya fokus dalam mengemudinya.
            Seperti biasanya Nerya memarkir mobil di dapan pagar. Nerya menuntunku masuk, dan membawaku ke kamar.“Cel aku pulang dulu ya? Aku di suruh mama nganterin ke salon, baik-baik ya di rumah.” Pamit Nerya dengan rasa khawatir.
            “Iya Nerya, makasih ya.” Jawaban singkat yang keluar dari mulutku, Nerya bergegas meninggalkanku. Aku membuka serbet yang membekap lukaku, rasa nyeri itu sedikit berkurang.
                                                            ####
            Pyyaaarrrr…. Dan suara jeritan dari bunda membangunkan tidurku. Aku bergegas bangun dan keluar kamar. Langkahku makin cepat dan akhirnya sampai di pintu kamar mereka yang terbuka lebar. Di situlah aku menyaksikan dengan kedua mataku sendiri: Ayah menampar Bunda! Ini pertengkaran yang mungkin sudah seratus kali. Tapi hanya kali ini Ayah menampar Bunda.
            Tentu saja aku syok. Kejadian ini membuat kakiku terasa lemas, pikiranku kosong. Akhirnya, aku berhasil mengumpulkan kekuatan untuk berlari ke kamar mandi. Terlihat cutter disamping bathtub, kutekan dan ku geser  tombolnya hingga logam tipis berkilauan itu keluar beberapa senti dari gaganggnya yang berwarna ungu. Aku menekan dalam-dalam cutter tadi hingga menembus kulitku. Darah sudah mulai keluar sebelum aku menggores sedikitpun.  Kali ini rasa sakit yang kurasakan lebih dari biasanya karena goresan yang kubuat lebih dalam.
                                                            ####
2 tahun kujalani hidup dengan pertengkaran mereka. Aku hancur dan keadaan rumah pun kacau.
“Cel, ayah dan Bunda ingin bicara denganmu. Ayah dan Bunda memutuskan untuk bercerai. Sudah 2 tahun ini Ayah dan Bunda sudah merasa tidak cocok lagi”. Ucapan Ayah membuatku Syok. “ kalau itu mau kalian, aku terserah Ayah dan Bunda.” Ucapku cuek menanggapi mereka. Sebenarnya aku tak ingin mereka berpisah. Hanya saja aku kasihan pada mereka jika setiap hari selalu bertengkar. Aku yakin ini memang jalan terbaik buat mereka.
                                                            ######
            “ Bunda…,” ucapku menahan tangis sambilbil menghampirinya, kemudian berlutut di hadapannya dan memeluk erat pinggangnya. Air mataku membanjir. “Icel belum siap dengan perpisahan ini, “ lanjutku. Aku membenamkan kepalaku di pangkuan Bunda, dan menangis lebih keras. “Bukan, ini bukan perpisahan,” tangan Bunda membelai lembut rambutku. ”Kita nggak akan berpisah, hanya saja kita berpisah ruang, hati kita akan tetap bersatu”. Jawab Bunda dengan isakan tangis. Aku langsung terbangun dan mencium kening Bunda. Ayah menghampiriku, mengajakku pulang karena matahari sudah tak terlihat lagi. Aku memeluk Bunda lagi, “ ingat ya Cel, ini bukan sebuah akhir,” lanjut Bunda,” tapi sebuah awal. Bunda tersenyum padaku dan tersenyum pada Ayah.